BATUBARAPOS.com, YOGYAKARTA | Kejutan terjadi di tubuh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Sumatera Utara Yogyakarta. Putri Dwi Kusuma, yang selama ini menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, mendadak dicopot pada 23 Juni 2025.
Uniknya, perombakan ini dilakukan tanpa keterangan resmi. Lebih unik lagi, waktunya begitu “tepat”: hanya beberapa minggu sebelum Pesona Budaya Sumut 2025, agenda tahunan terbesar IKPM Sumut di Yogyakarta. Sebuah kebetulan yang tentu saja… menarik untuk direnungkan.
Spekulasi Publik: Sekadar Penyegaran atau Ada yang Lebih Segar?
Langkah mendadak ini memunculkan spekulasi. Wajar saja, karena reshuffle tanpa alasan seringkali menimbulkan tanda tanya. Apalagi, kegiatan besar biasanya diiringi anggaran besar. Pertanyaan publik pun sederhana:
Apakah ini soal profesionalitas, atau sekadar siapa yang lebih “aman” mengelola acara dan anggarannya?
Putri pun mengaku heran.
“Aku sendiri bingung kenapa aku direshuffle. Apa karena kritik dan advokasi yang aku lakukan dianggap mengganggu? Atau supaya mereka bisa leluasa nanti di Pesona Budaya — apalagi anggarannya besar lo,” ujarnya.
Dari Aktivis Transparansi ke Korban Reshuffle
Putri bukan sosok baru. Ia dikenal vokal memperjuangkan transparansi dan pernah memimpin IKAMBARA Yogyakarta (2021–2022), membawa berbagai program bermanfaat seperti penyaluran beasiswa Baznas dan pengawalan hibah pendidikan.
Dengan rekam jejak seperti itu, pencopotannya justru menimbulkan ironi:
Apakah suara kritis kini dianggap ancaman dalam organisasi mahasiswa?
Nilai Musyawarah Masih Ada?
Kini, pertanyaannya bukan hanya soal siapa yang menjabat, tapi juga soal nilai.
Apakah IKPM Sumut Yogyakarta masih mengedepankan demokrasi dan musyawarah, atau mulai belajar politik ala panggung besar?
Hingga berita ini ditulis, pengurus IKPM Sumut belum memberikan klarifikasi resmi, meskipun konfirmasi telah coba dilakukan. Mungkin mereka sedang merumuskan jawaban — semoga tidak sampai menunggu acara selesai. (Red)

