BATUBARAPOS.com, YOGYAKARTA | Konflik internal kembali mengguncang tubuh organisasi Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Sumatera Utara Yogyakarta. Kali ini, suara keras datang dari IKPM Padang Lawas Yogyakarta (IKPM Palas Yk) yang dengan tegas menyatakan penolakan terhadap reshuffle pengurus IKPM Sumut Yogyakarta yang dinilai sepihak dan tidak transparan. Rabu (02/07/2025)
Dalam pernyataan resmi yang dibacakan langsung oleh Gibran Alkoiri Siregar, Ketua Umum IKPM Palas Yk, disebutkan bahwa dinamika yang terjadi sudah keluar dari prinsip musyawarah dan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi organisasi mahasiswa daerah ini.
“Kami menilai reshuffle ini tidak dilakukan dengan prosedur yang sah. Tidak ada transparansi, tidak ada musyawarah. Bahkan dokumen resmi dan undangan rapat pun tidak kami temukan,” tegas Gibran dengan nada kecewa.
IKPM Palas menyebutkan setidaknya empat alasan utama yang memperkuat sikap mereka:
- Ketiadaan transparansi dalam pelaksanaan reshuffle.
- Tidak adanya dokumen tertulis yang menjelaskan alasan reshuffle.
- Rapat harian pengurus tidak pernah dilaksanakan.
- Tidak ada bukti keputusan kolektif yang sah.
Tidak berhenti pada penolakan, IKPM Palas juga secara lantang mendesak diadakannya Kongres Luar Biasa (KLB)untuk menyelesaikan kisruh yang dinilai sudah mencoreng marwah organisasi.
“Kami ingin menyelamatkan organisasi ini. KLB adalah jalan tengah yang paling adil dan konstitusional,” lanjut Gibran.
Dalam pernyataannya, IKPM Palas Yogyakarta mengajak seluruh Orda (organisasi daerah) di bawah naungan IKPM Sumut Yogyakarta untuk ikut mengawal jalannya KLB, sebagai sarana untuk:
- Menyelesaikan konflik secara bermartabat,
- Menyampaikan aspirasi secara terbuka,
- Mengembalikan kepercayaan dan kehormatan organisasi,
- Menata ulang struktur kepengurusan dengan cara yang adil dan demokratis.
Lebih jauh, Gibran menegaskan bahwa pernyataan sikap ini lahir dari rasa cinta dan kepedulian terhadap masa depan IKPM Sumut Yogyakarta, bukan sekadar reaksi emosional.
“IKPM Sumut seharusnya jadi rumah bersama, bukan tempat segelintir orang memainkan kekuasaan. Kami kecewa, tapi kami tidak akan diam,” tutup Gibran.
Pernyataan sikap ini dinilai sebagai sinyal keras bahwa suara-suara kritis dari akar rumput mahasiswa daerah tidak bisa lagi diabaikan. Jika KLB benar-benar diselenggarakan, maka sejarah baru akan dimulai dalam lembaran organisasi mahasiswa Sumatera Utara di Yogyakarta.
Penulis : Putri Dwi Kusama

