BATUBARAPOS.com, BATU BARA | Gelombang laut yang mengamuk di perairan Batu Bara kembali menjadi saksi bisu perjuangan hidup para nelayan. Sebuah boat nelayan pencari ikan gembung tenggelam setelah dihantam ombak besar pada Kamis (20/11/2025), menyisakan kisah getir yang membuat dada siapa pun ikut sesak.

Menurut informasi yang dihimpun, boat tersebut membawa 8 anak buah kapal (ABK) saat diterjang gelombang tinggi di tengah operasi penangkapan ikan. Ombak besar datang tiba-tiba, menghantam lambung boat hingga perlahan kehilangan keseimbangan.
Beruntung, takdir berkata lain. Delapan ABK yang sempat terombang-ambing di tengah laut akhirnya berhasil diselamatkan oleh nelayan lain yang kebetulan melintas dan melihat tragedi tersebut.
Dalam video amatir yang viral di media sosial salah satunya di akun Facebook @Taufik Smile — terlihat momen menegangkan ketika para ABK berjuang mempertahankan jaring serta perlengkapan tangkap mereka. Dengan wajah panik dan tubuh basah kuyup, mereka masih berusaha menyelamatkan apa pun yang dapat diselamatkan, meski ombak terus menghantam tanpa ampun.
Tak lama kemudian, boat malang itu tenggelam sepenuhnya, perlahan menghilang ke dasar perairan Batu Bara. Sesaat setelah lambung kapal itu benar-benar lenyap dari permukaan air, boat nelayan lain yang berada tak jauh dari lokasi langsung mendekat dan mengangkat para ABK yang sudah kelelahan.
Para korban akhirnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini — sebuah keajaiban kecil di tengah ganasnya laut.
Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait penyebab pasti insiden tersebut maupun identitas lengkap kapal yang tenggelam.
Padahal jauh sebelumnya, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tentang potensi angin kencang dan gelombang tinggi di wilayah perairan Sumatera Utara. Meski demikian, pilihan para nelayan sangat terbatas. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, mereka tetap melaut — menantang risiko yang setiap hari mengintai nyawa mereka.
Di balik ombak yang tinggi, ada perut anak yang harus diisi.
Itulah kenyataan pahit yang membuat para nelayan tetap berangkat, meski tahu laut tidak selalu ramah. (Red)

