BATUBARAPOS.com, BATU BARA | Suasana panas di lintasan Motorcross & Gestrack Desa Lalang, Kecamatan Medang Deras, seketika berubah dingin saat panitia mengumumkan pembatalan acara musik yang seharusnya digelar Minggu malam (18/5). Tak ada dentuman drum, tak ada raungan gitar—yang tersisa hanya suara knalpot dan bisik-bisik kecewa dari warga yang sudah menanti hiburan malam itu.
Komite Event Festival Batubara (KEF), selaku penyelenggara, memberikan alasan klasik: tidak mendapatkan izin keramaian. Padahal, antusiasme warga sudah menggelora sejak jauh-jauh hari. Sayangnya, panitia tampak lebih piawai memacu motor di lintasan ketimbang mengurus administrasi penyelenggaraan.

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila Medang Deras pun angkat suara. Melalui pesan singkat WhatsApp, perwakilan PAC, Siswiko Mulyadi, menyampaikan kekecewaannya terhadap panitia.
“Kita sangat menyayangkan hal ini. Antusiasme masyarakat jelas tinggi, tapi profesionalisme penyelenggara yang rendah malah jadi penghambat,” ujar Siswiko.
Menurutnya, ini bukan sekadar soal izin, tetapi menyangkut tata kelola acara secara menyeluruh.
“Kalau tidak siap, jangan setengah hati bikin festival,” tegasnya.
Masyarakat sudah membayangkan sebuah rangkaian festival yang utuh: aksi motorcross seru di siang hari dan pentas musik lokal yang mengguncang di malam harinya. Namun, bagian terakhir hanya menjadi angan-angan yang bahkan belum sempat diwujudkan.
Komite Event Festival Batubara, yang semestinya menjadi lokomotif semangat event di daerah, justru tampil bak kereta mogok di tanjakan. Evaluasi total harus dilakukan sebelum mereka kembali menjual janji “kebahagiaan” lewat festival yang nyatanya membuat warga kecewa.
Untuk saat ini, masyarakat Medang Deras cukup puas dengan deru motor. Tapi jangan heran jika ke depannya mereka mulai skeptis setiap kali mendengar kata “Festival Batubara”—karena trauma akustik, nyatanya, lebih nyaring daripada suara knalpot. (Red)

