BATUBARAPOS.com, BATUBARA | Kamis siang, 28 Agustus 2025, Dusun 4, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara, berubah jadi lautan api. Rumah warga dilahap si jago merah, asap pekat menutup langit, jeritan histeris bercampur tangisan anak-anak menciptakan suasana mencekam.

Di tengah kepanikan itu, sirene mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara meraung keras, menembus suara hiruk pikuk warga. Para petugas datang bergegas, dengan wajah tegang, berlari melawan waktu untuk memadamkan api yang semakin membesar.
Namun alangkah pilu, kedatangan mereka bukan disambut doa syukur. Justru ada oknum warga yang kalap, melempar amarah, bahkan sampai memecahkan kaca mobil Damkar. Seakan-akan semua kesalahan dan keterlambatan adalah milik mereka semata, tanpa ada yang mau memahami perjuangan dan rintangan yang mereka lalui di jalan.
Getirnya, para petugas tetap bekerja. Mereka tak sempat membalas kata-kata kasar, tak sempat meratapi mobil yang pecah kacanya. Mereka hanya tahu satu hal: ada api yang harus dipadamkan, ada nyawa yang harus diselamatkan.
Di saat emosi memuncak, sebuah unggahan Facebook dari akun MS viral di lini masa. Ia menulis panjang lebar, menohok pola pikir masyarakat yang hanya tahu menyalahkan, tanpa pernah mau ikut berbuat.
“Lucu nya lah negara ku ini.. yg kalian kira damkar itu punya kantong doraemon begitu dihubungi begitu juga sampai.. kita tidak tau kendala mereka di jalan itu apa. Jangan mesti berpikir ohh sudah saya telpon damkar nya, si pastikan 5 menit nyampai nya itu..” tulisnya.
Ia mengingatkan, sebelum Damkar tiba, masyarakat terdekatlah yang seharusnya lebih dulu bergerak. Air setimba, pasir segenggam, atau sekadar usaha kecil bisa lebih berarti ketimbang berdiri merekam dengan ponsel.
“Seharusnya sebelum damkar datang kita yg masyarakat yg dekat dengan rumah korban seharusnya yg bersatu atau gotong royong untuk membantu sekecil apa pun usaha kita. Jangan hanya live dan liat aja… Biasakan pemikiran kita itu usaha dulu masalah hasil di akhir,” lanjutnya.
Tulisan itu jadi tamparan. Sebab realita di lapangan hari itu sungguh pahit: Damkar Pemkab Batubara datang berjuang, tapi pulang dengan kaca mobil pecah, tuduhan terlambat, dan tanpa seucap terima kasih.
Dusun 4, Desa Perupuk, bukan hanya saksi api yang melahap rumah, tapi juga saksi betapa mudahnya masyarakat melempar kesalahan, dan betapa beratnya tugas petugas Damkar yang sering kali tak dihargai.
Lolongan sirene itu bukan jeritan minta terima kasih. Itu adalah panggilan tugas, nyanyian pengorbanan yang tak semua orang sanggup memahaminya. (Red)

